Berhati-hatilah!

Berhati-hatilah!
Besikap hati-hati dan berusaha yang disertai dengan tawakal kepada Allah merupakan salah satu jalan menuju kebahagiaan. Rasulullah sendiri ketika turun ke medan perang, masih harus mengenakan baju perang. Padahal kita tahu bahwa Rasulullah adalah yang terbaik di antara orang-orang yang bertawakal. Salah seorang sahabat bertanya kepadanya, “Apakah saya harus mengikat unta saya, wahai Rasulullah, atau harus bertawakal saja?” Rasulullah menjawab, “Ikatlah untamu, dan bertawakallah.”
Berusaha dan bertawakallah kepada Allah adalah prinsip tauhid. Meninggalkan usaha dan hanya bertawakal kepada Allah adalah sebuah kekeliruan dalam memahami syariat.  Sedangkan berusaha saja tanpa tawakal kepada Allah adalah kekeliruan dalam memahami tauhid.
Ibnu Jauzi punya cerita berkaitan dengan masalah tawakal ini, yakni tentang seorang laki-laki yang sedang memotong kukunya. Karena tidak hati-hati maka ia memotong jarinya, dan mati.
Suatu ketika, ada seseorang masuk kandang keledai Sardan. Karena tidak hati-hati maka dia diseruduk oleh kedelai itu, dan langsung meninggal.
Diceritakan pula bahwa Thaha Husein, penulis terkenal itu, selalu berkata kepada sopirnya, “Jangan mengendarai mobil ini terlalu cepat, agar lebih cepat sa,pai ke tempat tujuan.” Ini merupakan terjemahan praktis dari sebuah peribahasa yang berbunyi: “Terburu-buru itu justru sering menciptakan kelambanan.”
Seorang penyair mengatakan,
                                    “Orang yang berhati-hati akan berhasil mendapatkan keinginannya,
                                                sedangkan yang terburu-buru mungkin akan jatuh tergelincir.”

Berhati-hati sama sekali tidak berarti menentang qadar. Berhati-hati justru merupakan bagian dari qadar itu, dan bahkan inti dari qadar tersebut.

Komentar